Selasa, 29 April 2008

Proses Belajar Di Dalam Penulisan Puisi


Apa yang seringkali menjadi problem kita di dalam menulis sebuah sajak? Apa pula yang sesungguhnya menjadikan sebuah sajak terasa merdu dibaca, mampu menyentuh perasaan, memiliki gaya pengimajian yang sangat menarik dan memiliki bobot kualitas sastra yang tinggi? Sepertinya ada semacam resep yang harus kita temukan untuk dapat menjadi seorang penyair yang baik.

Bahkan untuk menjadi seorang penyair yang handal dan berbobot kita harus meningkatkan diri kita sendiri untuk menjadi seorang yang benar-benar ahli di dalam bidang yang ingin kita tekuni tersebut. Seperti juga keahlian seorang koki, kalau memasak sekedar memasak mungkin banyak orang yang bisa melakukannya namun untuk menjadi seorang chef di sebuah hotel berbintang lima jelas dibutuhkan sebuah keahlian khusus. Dalam konteks inilah maka diperlukan proses belajar itu sebagai sebuah kegiatan yang harus terus-menerus kita jalankan secara berkesinambungan untuk meningkatkan kemampuan dan keahlian diri.

Ada beberapa pertanyaan yang dapat kita jadikan indikasi untuk melihat tingkat keseriusan kita dalam menekuni bidang yang satu ini; Apakah di dalam penulisan puisi ini kita hanya ingin sekedar menjadi seorang penggembira atau lebih terdorong lagi untuk menjadi seorang maestro? Apakah menurut anggapan kita merupakan harapan yang terlalu muluk untuk mewujudkan impian-impian serupa itu? Apakah terlampau berlebihan bila sekiranya kita bercita-cita untuk menjadi seorang penyair hebat semacam Chairil Anwar atau Sapardi Djoko Damono? Tentu saja hal itu tergantung dari segenap kemauan dan kesadaran kita atas bakat dan seluruh kemampuan yang kita miliki. Ada beberapa tahapan tertentu yang harus kita jalani untuk dapat meraih apa yang kita idam-idamkan itu. Yang pertama-tama dan wajib kita lakukan tentu saja adalah kita harus mulai menulis. Apa yang dapat kita tulis tentu saja meliputi banyak hal. Disinilah peran keakraban itu mulai mengambil posisinya yang paling menentukan di dalam menentukan langkah keberhasilan kita di masa depan.

Apakah kita cukup mengakrabi materi yang hendak kita tulis? karena tak ada satu hal pun yang instan dan datang dengan sendirinya. Kita harus mengenal diri kita sendiri, segenap bakat dan kemampuan, ketrampilan dalam mengolah kata, keahlian membangun imaji atau menyusun rima irama, dan bagaimana pula kita harus menyusun lapis-lapis makna di dalam sajak itu hingga mampu menggelorakan semangat vitalisme dari dalam diri sang penyair tanpa harus terjerembab ke dalam permaiann kata-kata belaka. Satu kata kunci yang harus kita pegang teguh adalah kita harus mengakrabi segala hal-hal tersebut.

Tapi dari mana sesungguhnya asal dari keakraban itu? Sutardji Calsoem Bachri sang presiden penyair yang akrab dipanggil dengan sebutan Cals pernah menyatakan bahwa untuk bisa akrab dengan kata sebagai bagian yang paling esensial dari sebuah sajak maka jikalau perlu kita haru menyelam ke dalam batu.

Wah bagaimana mungkin?” dengan serta-merta pula kita akan membantah.

Tentu saja mungkin!” jawab sang penyair besar itu sambil tersenyum-senyum. Karena yang ia maksudkan adalah kita harus menyelami kata itu hingga ke dalam intinya yang paling mendasar. Dan demikianlah Sutardji kemudian menemukan bahwa inti kata di dalam sajak terdapat di dalam mantra, maka lahirlah sajak-sajak mantra dari segenap keahliannya itu.

Dalam kesempatan lain Sapardi Djoko Damono yang sering dianggap pula sebagai guru besar para penyair pernah pula menyatakan bahwa “Pada mulanya adalah kata” karena itu kata memegang peranan yang sangat esensial, tidak sekedar sebagai media utama dalam penulisan puisi namun juga dalam media komunikasi. Oleh karena itu “kata”mu harus mampu menyampaikan maksudmu, jangan jadikan kata berhenti sebagai kata yang tidak menyiratkan apa-apa.

Pendekatan-pendekatan penulisan serupa itulah yang harus dari awal mula kita pahami bila kita memang berniat sungguh-sungguh ingin menjadi seorang penulis dan terlebih lagi menjadi seorang penyair. Kita harus mampu menundukkan kata, karena seorang penyair atau penulis adalah orang-orang yang tidak sekedar mempergunakan kata dan bahasa itu sebagai media di dalam mengkomunikasikan gagasan-gagasannya melainkan dalam banyak kesempatan mereka bahkan mampu menciptakan sebuah tradisi dalam proses berbahasa itu sendiri.

Satu hal yang jelas adalah bahwa keakraban lahir dari latihan terus-menerus dan kontinyu sifatnya. Keakraban yang lahir sebagai bentuk interaksi alamiah antara sang author dengan media yang dipergunakannya. Seorang rekan yang mengikuti sebuah workshop penulisan novel di Surakarta baru-baru ini menyampaikan bahwa mereka, para peserta work shop itu dituntut untuk mampu menuangkan gagasan secara rutin di atas kertas setidaknya 2 hingga 3 jam sehari dan bila memungkinkan jadwal tersebut harus terus ditambah. Sekali lagi tidak ada cara yang instan, bahkan untuk dapat menulis sebuah novel kita dituntut untuk menulis dengan cara simultan atau kita akan kehilangan momentum.

Demikianlah kenyataannya bahwa banyak penulis besar yang menyampaikan bahwa proses kreatif mereka seringkali lahir dengan cara begitu saja, tanpa resep-resep yang rumit, sekedar menulis dan terus menulis. Sehingga seperti yang pernah dialami oleh Budi Darma misalnya yang mampu menuangkan gagasannya bahkan tanpa harus memikirkannya terlebih dahulu, kata-kata mengalir demikian deras serupa air yang ngocor dari pipa keran yang bocor.

Kegiatan menulis sebagai sebuah aktivitas rutin akan mengasah intuisi kita, sekaligus ketajaman pikiran serta kepekaan kita atas keberadaan dan eksistensi kata. Dalam banyak kasus seperti yang dialami Budi Darma itu banyak penulis handal yang mungkin nggak sempat berfikir lagi apa yang harus ditulis, bagaimana alurnya? bagaimana karakter tokohnya? mengapa harus begini? atau mengapa harus begitu? karena naluri mereka sudah mengarahkan pergerakan tangan untuk menulis dengan sendirinya. Peristiwa serupa ini memang mungkin saja terjadi dan seringpula disebut sebagai penulisan otomatis (automatic writing) seolah sang penulis tengah berada dalam keadaan trance (serupa kesurupan). Bahkan ada sebuah gerakan penulisan serupa itu di luar negeri yang dipelopori oleh Andre Breton.

Keakraban sekali lagi dapat muncul dari banyak aspek seperti intensitas pemakaian dan penggunaan media, bisa pula dari kedalaman pengendapan batin, perenungan yang matang dan intensif atau juga dari kekayaan pengalaman hidup seorang penulis. Keakraban di sisi lain akan melepaskan kita dari kebuntuan gagasan, hal ini seperti tampak dalam puisi-puisi Joko Pinurbo atau H. Mustofa Bisri yang ditulis berdasar apa yang menjadi bahan perenungan mereka sehari-hari. Keakraban materi yang merupakan bagian dari kekayaan pengalaman pribadi sang penulis adalah merupakan bahan yang tidak akan ada habisnya untuk digali. Namun keberhasilan puisi-puisi serupa itu masih pula tergantung pada banyak aspek lainnya, yang antara lain adalah keahlian sang penulis dalam menggarap materi-materi yang telah tersedia di dalam dirinya. Selain intensitas pemakaian dan juga pengalaman hidup, keakraban yang lahir dari pengendapan batin dan perenungan pikiran tak bisa lepas dari kekayaan wawasan yang diperolehnya dari bacaan-bacaan yang bermutu yang memberikan daya dorong inspiratif.

By. Yuliati


2 komentar:

rini mengatakan...

materinya lengkap banget (capek juga si bacanya,tapi top abiss deh)aku setuju banget dengan semua pendapat yang anda tulis.

duniaanak_duniabermain mengatakan...

tulisan kamu bagus! wah..wah..sampek tau seluk beluk mengenai puisi. belajar berapa bulan nich?? wah kalah saingan nich. bagi-bagi donk ilmunya. secara keseluruhan perfect.