Kamis, 05 Februari 2009

Pembelajaran puisi dengan penggunaan objek lingkungan sekitar

PUISI.....

LINGKUNGAN.....

Pasti asyik bisa menulis puisi dengan diiringi burung berkicau dan juga sejuknya alam. Tapi tentunya akan sulit untuk dilakukan, kecuali jika pembelajaran dilakukan didaerah pedesaan pasti akan benar-benar nyata. Tapi jika pembelajaran dilakukan di tengah perkotaan kita bisa juga mengambil setting taman buatan sekolah ataupun cukup diarea sekolah saja. 

Memang tidak seasyik di lingkungan sebenarnya, tapi cukup membawa imajinasi siswa untuk menulis sebuah puisi. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan, bahwa membawa siswa untuk keluar kelas sangat efektif dilakukan daripada hanya terbatas didalam kelas yang akan membuat siswa boring atau disebut bosan. Jadi jika kita meminta siswa membuat puisi ajaklah mereka untuk keluar kelas!! 

CARA MUDAH MENERAPKAN TEAM TEACHING DALAM PEMBELAJARAN

Team Teaching atau Pembelajaran Tim (PT) saat ini mulai marak setelah beberapa sekolah terutama SMP, melakukan pembelajaran dengan harapan dapat lebih memaksimalkan fungsi guru, memenuhi standar mengajar 24 jam, dan pembelajaran menjadi menarik. SMPN 1 Pringkuku, Pacitan, 2007 yang lalu, melakukan pelatihan bagi guru untuk ber-pembelajaran tim yang diasuh oleh garduguru. Pelatihan itu dilaksanakan di ruang laboratorium. Kesannya sekarang, guru-guru di SMPN 1 Pringkuku itu merasakan hasilnya. Kemudian, SMPN 2 dan 4 Sidoarjo juga melakukan pelatihan PT dengan seksama meskipun sebelumnya sudah menerapkan PT. Mereka menyatakan bahwa PT lebih aspiratif dan menggairahkan kelas.

Apakah PT itu? PT adalah pembelajaran yang diasuh oleh dua atau lebih guru dengan satu topik atau satu kompetensi dasar. Di Jepang PT digunakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang berorientasi kesiswaan sekaligus menjadi solusi problematika kelas besar yang sangat sulit ditangani oleh satu orang guru, sedangkan untuk mengembangkan sebuah kelas baru terbentur pada masalah pendanaan. Beberapa SD di Jepang yang pernah menerapkan PT. Dengan pendekatan ini, pendidikan SD di Jepang yang berorientasi kepada pendidikan anak per anak lebih mudah dijalankan. Secara praktisnya, guru utama bertugas menjelaskan materi pelajaran, sedangkan assistant teacher berfungsi membantu anak yang mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran. Di Indonesia beberapa sekolah menerapkan pola yang sama namun berorientasi utama untuk melengkapi beban jam mengajar guru.

PT merupakan model pembelajaran kolaborasi pengajar di dalam kelas dengan observasi terhadap siswa secara intensif. Catatan khusus terhadap perilaku, ketidakbisaan, kesulitan siswa akan terekam dengan baik, bersamaan dengan itu, teknik pengajaran pun akan dapat dikritisi dengan baik. Untuk dapat melakukan ini dengan baik, kedua guru yang berkolaborasi harus mempunyai kesamaan komitmen, dan kesiapan untuk bersikap kritis dan mengkritisi.

PT tidak semudah pembelajaran yang biasanya, yakni pembelajaran guru tunggal. PT memerlukan tim yang padu, seirama, sejalan, senada, seide, dan semodel. Ibarat tim olahraga, guru yang akan ber-PT harus mampu memainkan pembelajaran dengan sangat padu dan kompak ke arah tujuan yang akan dicapai. Suara guru satu dengan guru lainnya harus diatur sehingga enak didengar siswa. Posisi berdiri tim juga harus dijaga dan diatur. Upayakan kelas benar-benar hidup dengan pemaknaan tunggal. Jangan sampai guru satu lebih berkuasa dibandingkan guru lainnya. Tim harus setara.

Cara mudah untuk PT adalah (1) rencanakan bersama. Duduklah berdua untuk membincangkan pembelajaran yang akan dilaksanakan lalu aturlah sampai ke hal teknis di kelas. Perencanaan yang dibuat bersama harus menjadi pedoman utama. Tim pengajar atau guru yang menyajikan bahan pelajaran dengan metode mengajar beregu ini menyajikan bahan pengajaran yang sama dalam waktu dan tujuan yang sama pula. (2) Laksanakan bersama. Ketika di kelas, tim harus semuanya berada di kelas dengan posisi yang telah diatur dalam rencana. Jangan sampai guru lainnya tidak masuk dengan alasan percaya dengan guru lainnya. Janagan lupa, ukurlah tingkat pemahaman siswa saat pelaksanaan. Kendali keberhasilan harus menjadi kunci kerja tim. (3) Evaluasi bersama. Setelah pembelajaran usai, tim jangan segera bubar. Luangkan waktu sebentar untuk saling mengevaluasi posisi, peran, hasil, kondisi, dan kapasitas penerimaan materi dari siswa. Hasil evaluasi itu menjadi bahan untuk rencana PT di hari berikutnya. Dalam PT, para guru tersebut bersama-sama mempersiapkan, melaksanakan, dan mengevaluasi hasil belajar siswa. ( Rangkuman didapat dari salah satu Dosen JBSI Unesa Drs. Suyatno )

Minggu, 25 Januari 2009

argumentasi tentang puisi

PUISI

kata penuh makna yang timbul dari dalam lubuk hati.

puisi merupakan imajinasi diri dalam berkarya....

Puisi dan pendidikan seolah tak dapat terpisahkan, hal itu menimbulkan suatu makna bahwa puisi dapat diciptakan oleh semua orang tak terkecuali oleh anak-anak. Puisi dapat dikategorikan menurut bahasa nya. Dapat dikatakan bahwa tentu saja bahasa anak-anak berberbeda dengan bahasa puisi mahasiswa ataupun orang yang sudah mahir membuat sebuah puisi.

Fenomena puisi dan pendidikan seolah tak dapat terpisahkan. Lihat saja anak kelas 6 SD saja sudah dapat membuat puisi. Hebat bukan!! tapi jelas bahwa bahasa puisi anak-anak sangat apik dan terkadang terlihat kejujuran dalam isinya. Sedangkan bahasa puisi remaja cenderung tentang percintaan atau cinta monyet yang tengah dia alami. Ya.... mungkin saja anak remaja cenderung mengungkapkan isi hati nya yang menyangkut percintaan dalam sebuah puisi. Ya lumayan unik juga, tapi berbeda dengan puisi dan bahasa puisinya orang dewasa yang selalu berbicara mengenai kehidupan beserta pahit getirnya.

Puisi terkadang ditulis untuk menenangkan hati dan Pikiran penulisnya. untuk itulah puisi seringkali disebut ungkapan hati, pikiran, dan perasaan. Puisi sejatinya hanya untuk puisi itu sendiri dan makna puisi berbeda pada tiap orang.

Selasa, 29 April 2008

Proses Belajar Di Dalam Penulisan Puisi


Apa yang seringkali menjadi problem kita di dalam menulis sebuah sajak? Apa pula yang sesungguhnya menjadikan sebuah sajak terasa merdu dibaca, mampu menyentuh perasaan, memiliki gaya pengimajian yang sangat menarik dan memiliki bobot kualitas sastra yang tinggi? Sepertinya ada semacam resep yang harus kita temukan untuk dapat menjadi seorang penyair yang baik.

Bahkan untuk menjadi seorang penyair yang handal dan berbobot kita harus meningkatkan diri kita sendiri untuk menjadi seorang yang benar-benar ahli di dalam bidang yang ingin kita tekuni tersebut. Seperti juga keahlian seorang koki, kalau memasak sekedar memasak mungkin banyak orang yang bisa melakukannya namun untuk menjadi seorang chef di sebuah hotel berbintang lima jelas dibutuhkan sebuah keahlian khusus. Dalam konteks inilah maka diperlukan proses belajar itu sebagai sebuah kegiatan yang harus terus-menerus kita jalankan secara berkesinambungan untuk meningkatkan kemampuan dan keahlian diri.

Ada beberapa pertanyaan yang dapat kita jadikan indikasi untuk melihat tingkat keseriusan kita dalam menekuni bidang yang satu ini; Apakah di dalam penulisan puisi ini kita hanya ingin sekedar menjadi seorang penggembira atau lebih terdorong lagi untuk menjadi seorang maestro? Apakah menurut anggapan kita merupakan harapan yang terlalu muluk untuk mewujudkan impian-impian serupa itu? Apakah terlampau berlebihan bila sekiranya kita bercita-cita untuk menjadi seorang penyair hebat semacam Chairil Anwar atau Sapardi Djoko Damono? Tentu saja hal itu tergantung dari segenap kemauan dan kesadaran kita atas bakat dan seluruh kemampuan yang kita miliki. Ada beberapa tahapan tertentu yang harus kita jalani untuk dapat meraih apa yang kita idam-idamkan itu. Yang pertama-tama dan wajib kita lakukan tentu saja adalah kita harus mulai menulis. Apa yang dapat kita tulis tentu saja meliputi banyak hal. Disinilah peran keakraban itu mulai mengambil posisinya yang paling menentukan di dalam menentukan langkah keberhasilan kita di masa depan.

Apakah kita cukup mengakrabi materi yang hendak kita tulis? karena tak ada satu hal pun yang instan dan datang dengan sendirinya. Kita harus mengenal diri kita sendiri, segenap bakat dan kemampuan, ketrampilan dalam mengolah kata, keahlian membangun imaji atau menyusun rima irama, dan bagaimana pula kita harus menyusun lapis-lapis makna di dalam sajak itu hingga mampu menggelorakan semangat vitalisme dari dalam diri sang penyair tanpa harus terjerembab ke dalam permaiann kata-kata belaka. Satu kata kunci yang harus kita pegang teguh adalah kita harus mengakrabi segala hal-hal tersebut.

Tapi dari mana sesungguhnya asal dari keakraban itu? Sutardji Calsoem Bachri sang presiden penyair yang akrab dipanggil dengan sebutan Cals pernah menyatakan bahwa untuk bisa akrab dengan kata sebagai bagian yang paling esensial dari sebuah sajak maka jikalau perlu kita haru menyelam ke dalam batu.

Wah bagaimana mungkin?” dengan serta-merta pula kita akan membantah.

Tentu saja mungkin!” jawab sang penyair besar itu sambil tersenyum-senyum. Karena yang ia maksudkan adalah kita harus menyelami kata itu hingga ke dalam intinya yang paling mendasar. Dan demikianlah Sutardji kemudian menemukan bahwa inti kata di dalam sajak terdapat di dalam mantra, maka lahirlah sajak-sajak mantra dari segenap keahliannya itu.

Dalam kesempatan lain Sapardi Djoko Damono yang sering dianggap pula sebagai guru besar para penyair pernah pula menyatakan bahwa “Pada mulanya adalah kata” karena itu kata memegang peranan yang sangat esensial, tidak sekedar sebagai media utama dalam penulisan puisi namun juga dalam media komunikasi. Oleh karena itu “kata”mu harus mampu menyampaikan maksudmu, jangan jadikan kata berhenti sebagai kata yang tidak menyiratkan apa-apa.

Pendekatan-pendekatan penulisan serupa itulah yang harus dari awal mula kita pahami bila kita memang berniat sungguh-sungguh ingin menjadi seorang penulis dan terlebih lagi menjadi seorang penyair. Kita harus mampu menundukkan kata, karena seorang penyair atau penulis adalah orang-orang yang tidak sekedar mempergunakan kata dan bahasa itu sebagai media di dalam mengkomunikasikan gagasan-gagasannya melainkan dalam banyak kesempatan mereka bahkan mampu menciptakan sebuah tradisi dalam proses berbahasa itu sendiri.

Satu hal yang jelas adalah bahwa keakraban lahir dari latihan terus-menerus dan kontinyu sifatnya. Keakraban yang lahir sebagai bentuk interaksi alamiah antara sang author dengan media yang dipergunakannya. Seorang rekan yang mengikuti sebuah workshop penulisan novel di Surakarta baru-baru ini menyampaikan bahwa mereka, para peserta work shop itu dituntut untuk mampu menuangkan gagasan secara rutin di atas kertas setidaknya 2 hingga 3 jam sehari dan bila memungkinkan jadwal tersebut harus terus ditambah. Sekali lagi tidak ada cara yang instan, bahkan untuk dapat menulis sebuah novel kita dituntut untuk menulis dengan cara simultan atau kita akan kehilangan momentum.

Demikianlah kenyataannya bahwa banyak penulis besar yang menyampaikan bahwa proses kreatif mereka seringkali lahir dengan cara begitu saja, tanpa resep-resep yang rumit, sekedar menulis dan terus menulis. Sehingga seperti yang pernah dialami oleh Budi Darma misalnya yang mampu menuangkan gagasannya bahkan tanpa harus memikirkannya terlebih dahulu, kata-kata mengalir demikian deras serupa air yang ngocor dari pipa keran yang bocor.

Kegiatan menulis sebagai sebuah aktivitas rutin akan mengasah intuisi kita, sekaligus ketajaman pikiran serta kepekaan kita atas keberadaan dan eksistensi kata. Dalam banyak kasus seperti yang dialami Budi Darma itu banyak penulis handal yang mungkin nggak sempat berfikir lagi apa yang harus ditulis, bagaimana alurnya? bagaimana karakter tokohnya? mengapa harus begini? atau mengapa harus begitu? karena naluri mereka sudah mengarahkan pergerakan tangan untuk menulis dengan sendirinya. Peristiwa serupa ini memang mungkin saja terjadi dan seringpula disebut sebagai penulisan otomatis (automatic writing) seolah sang penulis tengah berada dalam keadaan trance (serupa kesurupan). Bahkan ada sebuah gerakan penulisan serupa itu di luar negeri yang dipelopori oleh Andre Breton.

Keakraban sekali lagi dapat muncul dari banyak aspek seperti intensitas pemakaian dan penggunaan media, bisa pula dari kedalaman pengendapan batin, perenungan yang matang dan intensif atau juga dari kekayaan pengalaman hidup seorang penulis. Keakraban di sisi lain akan melepaskan kita dari kebuntuan gagasan, hal ini seperti tampak dalam puisi-puisi Joko Pinurbo atau H. Mustofa Bisri yang ditulis berdasar apa yang menjadi bahan perenungan mereka sehari-hari. Keakraban materi yang merupakan bagian dari kekayaan pengalaman pribadi sang penulis adalah merupakan bahan yang tidak akan ada habisnya untuk digali. Namun keberhasilan puisi-puisi serupa itu masih pula tergantung pada banyak aspek lainnya, yang antara lain adalah keahlian sang penulis dalam menggarap materi-materi yang telah tersedia di dalam dirinya. Selain intensitas pemakaian dan juga pengalaman hidup, keakraban yang lahir dari pengendapan batin dan perenungan pikiran tak bisa lepas dari kekayaan wawasan yang diperolehnya dari bacaan-bacaan yang bermutu yang memberikan daya dorong inspiratif.

By. Yuliati


PUISI POP ATAU LAGU POP

Ada sebuah paradoks dalam dunia perpuisian. Apakah kita sepakat, bahwa hampir setiap orang (yang melek aksara dan bisa berbahasa) pernah menulis puisi? Seorang penyair atau yang merasa diri penyair tentu saja pernah menulis puisi, justru menjadi semacam profesi atau dedikasi. Bagi orang “biasa”, mungkin mereka menulis puisi dalam buku harian, majalah dinding, surat untuk kekasih, saat mengisi buku kenangan, bahkan kini dalam blog pribadi. Akan tetapi, adakah hampir setiap orang membeli (atau membaca dengan antusias) puisi-puisi orang lain? Barangkali kita perlu meneliti secara sungguh-sungguh, agar kita tahu penyebab mengapa buku puisi kurang laku dibanding novel, sehingga penerbit merasa enggan untuk menggarap karya-karya para penyair Indonesia.

Padahal puisi merupakan karya sastra paling universal (apalagi banyak dikembangkan menjadi lagu, atau dengan kata lain, sejumlah besar lirik lagu bisa dikategorikan puisi), yang paling mudah dikenali dari bentuknya: baris-baris kata atau kalimat menjadi bait atau kuplet. Puisi enak dibaca berulang-ulang, ketimbang sebuah cerpen atau novel yang tentu jauh lebih panjang dan menghabiskan banyak waktu. Oleh karena itu puisi juga mudah dihafal luar kepala. Puisi demikian ringkas mengemas perasaan tertentu, sementara prosa justru terasa meluas ke pelbagai arah. Puisi pintar menyimpan misteri sehingga perlu berulang-kali menerka tafsirnya, sementara prosa terasa lebih menjelaskan ketimbang menyembunyikan. Puisi acap kali bersifat personal… nah, barangkali ini simpul musababnya.

Sesuatu yang personal membutuhkan keterkaitan emosional antara penulis dan pembacanya. Sedangkan cerita pendek dan novel (yang realis) bisa diterima pelbagai pihak dengan rentang usia atau profesi yang demikian luas. Puisi, dalam sebuah ekstrem, terasa jadi sangat simbolik dan kepuitisannya jika tidak pas malah membuatnya kenes. Bagi orang biasa (bukan sastrawan atau penggemar sastra), cerita pendek dan novel lebih bisa dinikmati. Tentu karena sifat-sifat yang (umumnya) lebih menjelaskan: ada narasi deskripsi, bahkan dibantu percakapan antartokoh (bila ada).

Mengapa setiap orang cenderung memilih puisi sebagai ekspresi atau katarsis dari gejolak perasaannya? Karena puisi menjadi alat pengucapan yang sanggup segera menangkap sekaligus mengisyaratkan perasaan dalam sebuah momentum. Andai seseorang memilih cerpen atau novel ketika sedang gandrung, marah, atau terharu, agaknya perasaan itu terburu tawar sebelum jalan pengungkapannya selesai. Meskipun, dalam kasus tertentu, seseorang akan menulis prosa dengan memelihara “keterharuannya” secara konsisten sepanjang proses penulisannya. Itu saya kira persoalan obsesi.

Karena kita akan bicara mengenai puisi pop, maka perlu menyamakan persepsi tentang pop terlebih dahulu. Jika pop berasal dari kata populer, maka sesuatu yang pop selalu digemari banyak orang. Pop menjadi semacam budaya massa, suatu tren yang menjalar demikian cepat dan mendunia. Kata pop dapat disandangkan ke pelbagai objek. Lagu pop, film pop, pop corn, pop mie, lolypop… Pop kemudian dibedakan dengan yang klasik. Pertanyaannya adalah: adakah lagu pop tidak akan pernah menjadi klasik? Demikian juga cerita pop, yang muncul sebagai karya kontemporer, tidakkah suatu saat akan menjadi cerita klasik?

Dalam sebuah diskusi, Remy Sylado sebagai penggagas “puisi mbeling” di tahun 70-an, mengatakan bahwa pada awal gerakannya, pop dibuat demikian serius. Tujuannya adalah ingin mengusik kemapanan yang seolah-olah menempatkan posisi lagu, gambar, sastra, mode busana hanya milik menara gading. Seniman, baik pelukis, komponis, sastrawan, sutradara, maupun pemeran teater di masa lalu menjadi orang-orang agung dan waskita. Karya-karya mereka menjadi sesuatu yang adiluhung. Namun tiba-tiba segala yang eksklusif itu mencair oleh gerakan pop. Gerakan yang ingin memberikan alternatif, agar tidak hanya mempercayai arus besar karya (puisi) kontemplatif sebagai satu-satunya genre. Mereka, para “pemberontak”nya mencoba menciptakan subgenre-subgenre. Dengan melelehkan “kebekuan” karya yang seolah “tak tersentuh” (proses penciptaannya) oleh orang-orang awam, disambut masyarakat dengan gembira. Karena kemudian publik lebih berani menampilkan karyanya, termasuk puisi. Saya kira ini sebuah keberanian yang patut dipuji.

Pop itu ternyata lebih cepat diaplikasi, karena lebih “berwarna” dan mudah (atau boleh?) diduplikasi. Segala yang pop tumbuh sebagai bagian dari kegiatan sehari-hari, digemari banyak orang. Ditandai dengan produk semacam cocacola, film Holywood, fried chicken, arloji Guess, dan lain-lain. Lalu bagaimana dengan cerpen pop dan puisi pop? Cerpen yang mengangkat tema cinta remaja atau dewasa dengan mengusung ikon-ikon yang bersifat “fashion” (misalnya menyebutkan nama mal, judul film, makanan, penyanyi yang sedang kondang) dianggap cerpen pop. Puisi tentunya disebut demikian juga, jika hanya membahas masalah yang “tampak” di permukaan. Tampil dengan presentasi ragawi bukan dengan menggali kedalaman isi. Seolah-olah puisi pop tak akan tahan lama, sebab begitu ganti generasi, ikon di dalamnya tak dikenali lagi.

Berangkat dari kata populer itulah, seharusnya, sebuah karya sastra terutama puisi, diuntungkan. Karena kata populer itu berkaitan dengan “dikenal banyak kalangan”, tentu nama pengarangnya akan lebih lekas melambung. Bahkan seakan-akan menggeser nama-nama “dewa” penyair yang sudah malang melintang lebih dulu. Hal itu berlaku bagi penulis prosa, misalnya Hilman Hariwijaya atau Mira W. Sedangkan penulis puisi, selain Remy Sylado, mungkin “hanya” Yudhis, Arswendo Atmowiloto. Padahal banyak sekali orang menulis puisi (pop), tetapi tidak serta-merta bersedia disebut penyair pop.

Lantas kenapa puisi pop tumbuh subur, sebagaimana lagu pop? Saya rasa karena sanggup memenuhi kebutuhan perasaan banyak orang. Oleh karena itu, puisi pop menjadi bagian dari pergaulan masyarakat. Puisi pop terasa ringan, mudah dicerna, dan dilahap seperti halnya popcorn, lolypop, atau popmie.

By. Yuliati


Jumat, 11 April 2008